UMUK, SOLU DAN GLEMBUK

0 72

Oleh : SBS

“Alung mati umuk daripada mati ketekuk”

Saat diskusi tentang bargaining power, kalimat diatas kerapkali diucapkan kawan saya dengan nada guyonan.

Komunikasi menjadi sarana menyampaikan pesan, ide dan gagasan. Bisa dilakukan dengan verbal dan non verbal.

Mempengaruhi orang lain mesti ada komunikasi biasanya dilakukan secara verbal, yakni dengan kata-kata, baik tulisan maupun dengan dialog.

Pilihan kata dan kalimat biasanya mengandung cita rasa. Maka ada istilah kata-kata pedas, tajam, lembut dan lain sebagainya.Salah menempatkan kata atau kalimat bisa berakibat fatal, maka hati-hati jangan sampai ketrucut atau keceplosan.

Lidah lebih tajam dari sembilu. Penggunan kata yang tidak tepat bisa terasa gatal di telinga bahkan menyayat hati.

Konon, orang cerdas bisa dilihat dari cara dan gaya bicaranya. Diksi, kalimat dan sistematika bicaranya enak di dengar dan tidak membosankan. Kerapkali keluar joke humor penyegar juga analogi yang menggelitik namun sejalan dengan materi pembicaraan.

Pun dalam politik diperlukan ketrampilan berkomunikasi. Tidak heran kebanyakan orang politik “mbalek omong”. Apalagi saat kampanye.

Dalam hal elektoral, komunikasi politik dibutuhkan untuk meraih simpati, mendapat dukungan agar menjadi pilihan masyarakat.

Komunikasi persuasif kerapkali digunakan untuk memperngaruhi orang lain. Istilahnya dengan cara “ngemong disik ngemeng mburi”. Ha ha…

Dalam politik dukungan bukan hanya dalam bentuk pilihan elektoral, sesama mitra politik acapkali dilakukan juga dalam hal menggalang keberpihakan yang goalnya adalah kesepakatan.

Dalam pengamatan saya, setidaknya ada beberapa gaya komunikasi orang politik. Terutama pada masyarakat Jawa.

Gaya Umuk, komunikasi dengan cara menaikkan daya tawar diri sendiri agar orang lain segan, minder akhirnya berhitung untuk meremehkan dan menyerang. Juga untuk meyakinkan khalayak denag kapasitas diri. Istilah lain dari umuk adalah arogan.

Gaya Glembuk, gaya ini bisa dikatakan kebalikan dari Umuk. Merendah di hadapan orang lain pada saat yang sama menyampaikan kelebihan dan keunggulan lawan bicara. Yang penting bisa mendapat feed back sesuai harapan. Kesannya lembah manah dan andap asor. Merendah untuk meninggi. Mengalah untuk menang. Nampaknya gaya ini yang paling disuka masyarakat Jawa.

Gaya Solu, yakni memberikan pujian entah sesuai kenyataan ataupun tidak. Tujuannya adalah agar mudah mendapat imbal balik manfaat dari orang lain. Istilah jawa yang pas “Umbulno yen wis ceblok kari ngeruk” ha ha..

Gaya umuk sebenarnya tidak selalu negatif. Konon, Pakubuwono menggunakan gaya ini dalam menjaga eksistensi orang Jawa Tengah dalam pergaulannya dengan bangsa Eropa.

Demikian juga dengan yang lain. Glembuk dan solu bisa dijadikan cara komunikasi dalam rangka win-win solution. Tinggal niat dan implementasinya.

Terakhir, tidak ada ruginya untuk selalu waspada daripada was-was ketakutan. He he

Waspadalah..!!

Leave A Reply

Your email address will not be published.