BREAKING NEWS

Sejumlah Peserta Pelatihan Digembleng Buat Konten Dengan Kamera Gawai

0 43

Haloblora.co – Sejumlah peserta pelatihan konten kreator Balai Latihan Kerja (BLK) Dinas Perindustrian dan Trenaga Kerja (Dinperinnaker) Kabupaten Blora, Jawa Tengah terus digembleng untuk praktik dan mengolah (edit) hasil rekaman video di sejumlah lokasi.
Selain pembelajaran klasikal di BLK Blora, mereka diajak ke sejumlah tempat supaya lebih mood dan fokus dengan variasi dan komposisi angel video yang menarik, meskipun merekam menggunakan kamera gawai.
“Yang bisa jadi lebih bisa, yang belum bisa menjadi bisa,” ucap Agung, salah satu peserta pelatihan konten kreator di BLK Blora, Jumat (17/3/2023).
Setelah Rumah Artefak Blora dan Puncak Serut jadi obyek konten kreator, mereka diajak ke sentra industri kerajinan anyaman bambu di Desa Sumurboto Kecamatan Jepon dan Griya Keramik Desa Balong Kecamatan Jepon, Kamis (16/3/2023).
Mereka pun membaur dengan warga, perangkat desa dan Ketua Pokdarwis untuk wawancara. Bahkan saat di Griya Keramik Balong, selain membuat konten, mereka juga diberi kesempatan untuk membuat kerajinan dari tanah liat.
“Alhamdulillah, menjadi lebih percaya diri untuk buat konten. Kami dilatih buat film pendek iklan layanan masyarakat, wisata edukasi dan sentra industri rumahan. Tujuannya untuk mengeksplore potensi Blora, hasil video kami unggah di media sosial, kami sudah punya akun YouTube Konten Kreator Blora,” kata Indra, peserta lainnya.
Untuk diketahui, sebagian besar penduduk Desa Sumurboto, Kecamatan Jepon, Kab. Blora, Jawa Tengah berprofesi sebagai petani, namun membuat kerajinan anyaman bambu sangat melekat khususnya bagi para wanita desa setempat.
Kerajinan anyaman bambu seperti membuat bakul (dunak) dan anting (wadah tempat makanan) yang telah digeluti menjadi sisi lain kehidupan para warga Desa Sumurboto untuk menambah penghasilan keluarga. Selain itu, membuat anyaman bambu sudah menjadi tradisi turun-temurun meskipun haruis bersaing dengan produk plastik.
Meski ada yang mengakui keterbatasan permodalan. Tetapi bukan menjadi penghalang saat mengisi waktu luang untuk memenuhi pesanan. Telaten dan semangat disertai ketrampilan khusus saat menganyam, merupakan modal utama agar hasilnya bisa maksimal, bertahan dan dikenal oleh masyarakat luas.
Misalnya, untuk menyelesaikan satu buah dunak berukuran besar diperlukan waktu lebih kurang dua hari. Jika mendapat banyak pesanan, mereka mengerjakan bersama-sama kerabat dan keluarga lainnya.
Kepala Desa Sumurboto, Suprapti, mengungkapkan, warga di wilayahnya sangat berpotensi untuk membuat anyaman bambu. Hanya saja dinilai sulit untuk maju karena beberapa faktor.
“Sangat berpotensi, tapi masih belum bisa maju, penyebabnya para perajin masih individual, artinya masih dilakukan pada perorangan tiap rumah, belum terbentuk kelompok penganyam. Tetapi meraka juga saling berinteraksi jika ada pesanan dalam jumlah banyak,” ungkapnya.
Faktor lainnya adalah pekerjaan menganyam dilakukan bukan sebagai mata pencaharian pokok, melainkan sebagai penopang waktu luang ketika mereka sedang tidak menggarap sawah.
Kemudian, para pelaku penganyam bambu, rata-rata sudah berusia tua. Sedangkan yang muda dinilai kurang minat untuk belajar menganyam bambu.
“Berbagai upaya sudah kami lakukan bersama pihak terkait. Harapannya, desa kami sebagai salah satu sentra kerajian anyaman bambu makin bisa menjadi ikon tersendiri untuk Blora. Kami masih menyesuaikan anggaran untuk pembuatan seperti gapura identitas Desa Sumurboto sentra industri anyaman bambu, ” tandasnya.
Untuk memotivasi agar kerajinan anyaman bambu diminati oleh anak-anak, pihaknya melakukan pelatihan keterampilan khusus kepada siswa SD di wilayah setempat.

Sementara itu Susanto, Ketua Pokdarwis Desa Balong Kecamatan Jepon, berharap agar peserta pelatihan konten kreator bisa membantu promosi dalam pengembangan edukasi wisata keramik di desa setempat.
“Harapan teman-teman juga mau belajar bagaimana cara pembuatan gerabah dan keramik yang selama ini sudah mulai punah, di Kabupaten Blora khususnya, mungkin sudah langka anak-anak bermain tanah liat, disinilah di Griya Keramik Balong tempat kita bermain gerabah dan keramik,” kata Susanto.
Susanto menjelaskan, potensi tanah liat yang ada di wilayah setempat prospektif dikembangkan sehingga pada tahun 2017 dirintislah Griya Keramik.
“Untuk pendirian Griya Keramik sendiri mendapat bantuan CSR dari ExxonMobil yang ada di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Kita dapat bangunan. Dari pihak desa kita menyiapkan lahan, Jadi ini dulunya bengkok Kamituwo, yang sebagian dipakai untuk pembangunan ini,” jelasnya.
Susanto mengatakan desa wisata edukasi kerajinan ini sudah banyak diminati pengunjung yang datang, baik daerah lokal maupun luar daerah.
“Biasanya dikunjungi pelajar dan juga keluarga, kami juga menyediakan pelayanan jika ada pengunjung yang ingin mempraktikkan pembuatan kerajinan,” ungkapnya.
Wisata edukasi griya keramik balong mengupayakan produksi kerajinan gerabah dan keramik menarik di mata masyarakat.
“Kami juga memiliki paket produksi kerajinan gerabah dimulai dari harga Rp.15.000 dengan menyediakan kuas dan pewarna agar lebih menarik dan pengunjung juga bebas berkarya”, jelas Susanto. (RED-HB).

Leave A Reply

Your email address will not be published.