Memaknai Hijrah Sebagai Perpindahan Hidup Dari Hal Negatif ke Positif

0 12

Haloblora.co – Persatuan Wredatama Kabupaten Blora kembali melaksanakan siaran radio melalui Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Gagak Rimang Blora setelah beberapa pekan absen karena ada beberapa pengurusnya yang terpapar Covid-19.

Namun kini telah sehat dan kembali beraktivitas.

Acara bertajuk Wredatama Menyapa itu kembali mengudara dari pancaran gelombang 105,9 FM (streaming), Kamis (19/8/2021) pukul 20.00 WIB sebagai bentuk ibadah serta hiburan dengan tujuan untuk menyampaikan motivasi, ide, dukungan kepada pemerintah kabupaten Blora.

Semula direncanakan setiap dua minggu sekali pada Kamis malam Jumat secara bergiliran antar pengurus dan anggota PWRI.

Pada siaran kali ini Sekretaris PWRI Blora, Soedadyo, yang juga mantan Kepala Dinas Sosial danTenaga Kerja, menyampaikan tema tentang Hijrah.

Menurutnya, bulan Muharram ditandai adanya peristiwa besar, yaitu hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.
Hijrah sendiri, terang Sudadyo, pengertian secara terminologis bermakna meninggalkan sesuatu atas dasar untuk melakukan taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah.

“Dalam Islam kata hijrah sudah dikenal sejak awal Islam bahkan sebelumnya, dan hal ini Hijrah tidak hanya dipahami sebagai perpindahan fisik seperti hijrahnya Rasulullah, namun hijrah secara psikis, pikiran dan yang non fisik lainnya,” ucapnya.

Singkatnya hijrah adalah perpindahan hidup dari hal-hal negatif ke hal-hal positif.

Saat ini ajakan untuk berhijrah menjadi tren baru baik di kalangan tokoh agama, pejabat, para politisi, para artis maupun di kalangan anggota masyarakat.

Sebagaimana contoh yang ditunjukkan Sudadyo, masih banyak hijrah kecil-kecil yang perlu dilaksanakan saat ini di antaranya kudis (kurang disiplin), kutil (kurang teliti), kurap (kurang merapat/kurang dekat dengan Allah), kusem (kurang semangat), kuper (kurang pergaulan), kupeng (kurang pengalaman), dan kumal (kurang amal).

Disamping itu Hijrah harus ada niatan yang kuat dan istiqomah bukan sekedar asesoris belaka namun juga dari sisi aklaknya, akidahnya, ibadahnya dan perilakunya.

“Paling utama orang berhijrah itu dengan Tolabul Ilmi (mencari ilmu Agama).
Mengingat orang berhijrah akan memberi hasil buah yang manis,” ucapnya.

Di antaranya hilangnya kesusahan karena akan menemuhi yang baru, bertambah rezeki bertambah ilmu dan etikanya makin mantab,dan memperoleh sahabat yang mulia.

Pada kesempatan itu Ketua PWRI Blora H. Bambang Sulistya menambahkan acara itu sekaligus sebagai momentum untuk memanfaatkan bulan Muharram 1443 Hjriah sebagai bulan penuh berkah dan bulan bersedekah.

Dijelaskannya, bahwa hijrah juga dapat dimaknai sebagai fase penting dalam kehidupan seseorang untuk memperbaiki diri karena hijrah secara harafiah berarti meninggalkan dari kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang baik, positif yang bermaat bagi orang lain.

Oleh karenanya bila dikaitkan situasi pandemi Covid -19 saat ini berhijrah dapat dimaknai sebagai upaya untuk meninggalkan budaya 5M, bukan mau menentang protokol kesehatan, tapi 5M tersebut artinya sebagai berikut, 1M-Mengeluh artinya dalam suasana keprihatinan saat ini berhentilah untuk mengeluh karena kalau hanya mengeluh saja tak akan memberikan hasil apa-apa.

Mari dengan penuh semangat kita berbuat bersama sama melawan Corona.

2M-Memikirkan, artinya disaat menghadapi musibah saat ini tinggalkan memikirkan kondisi ada dengan pola mikir negatif tapi rubahlah dengan pola pikir positif yang kelak akan membuahkan karya yang baik.

3M-Menghujat,artinya mulailah saat ini untuk memuaskan emosi berhenti menghujad kepada Pemerintah karena perbuatan menghujad hanya akan menimbulkan kegaduan dan kebingungan di masyarakat.

Sebagai Pemerintah yang baik pasti sudah berupaya secara maksimal untuk menanggulangi musibah saat ini terjadi misalnya adanya program vaksinasi dan berbagai program bantuan sosial bagi masyarakat.

Selanjutnya, 4M-Memutar balikkan Fakta, artinya masih banyak anggota masyarakat yang tidak percaya kalau penyakit virus Corona itu ada.

“Mereka ada yang berpendapat penyait itu hanya rekayasa bahkan ada yang mengatakan itu hanya mengalihkan isu politik untuk mengalirkan dana bagi kepentingan kelompok mereka.Berhentilah untuk  membangun budaya memutar balikkan fakta karena azab akan menimpa.

Berikutnya, 5M-Menebarkan, artinya mulailah saat ini berhenti untuk menebarkan berita hoaks, fitnah dan provokasi karena hanya menimbulkan kondisi dimasyarakat yang semakin rapuh, runtuh dan ambyar bagi kerukunan dan keutuhan bangsa.

“Akhirnya melalui Wredatama Menyapa saya menitipkan harapan dengan sebait patun, Bulan Muharram bulan penuh berkah dan mulia, Segeralah bertobat dan jahui perbuatan tercela, Tunaikanlah puasa sunah agar memperoleh berlipat ganda pahala, Jangan lupa bersedekah dan berdoa,” tutur Bambang Sulistya yang mantan Sekda Blora.

Sementara itu Direktur LPPL Radio Gagak Rimang Blora, Kasiyanto, menyampaikan apresiasi atas semangat para wredatama.

Meskipun sudah purna tugas tetapi jiwa dan semangat mengabdi ibu pertiwi menjadi spirit bagi semuanya.

“Sangat hormat kepada sesepuh yang masih berkenan berbagi pengalaman dan nasehat. Terlebih masih peduli dengan radio,” ucapnya, Jumat (20/8/2021).

Pihaknya juga mempersilahkan kepada publik Blora yang ingin mengisi gelar wicara di studio Gagak Rimang. (RED-HB)

Leave A Reply

Your email address will not be published.