MAK JEGAGIK SMA

0 206

Oleh : SBS

Haloblora.co – Dari pagi belum sarapan, keluar dari bengkel saya cari warung makan. Yang terdekat adanya warung kopi yang dilengkapi fasilitas wifi.

Sedih dan prihatin mendapati banyak anak usia SD dan atau SMP berkerumun main game pakai android. Tidak usah tanya tentang prokes. Jelas tidak berlaku.

Tambah risih mereka misuh di sela dialog dan obrolannya. Tidak jelas, umpatan kasar berbahasa jawa ini ditujukan kepada siapa. Teman sebelahnya, partner ngegamenya atau permainan itu sendiri.

Yang jelas anak seusia mereka tidak seharusnya mengeluarkan umpatan apalagi keluar nama-nama binatang dan alat vital pria. Jika sesekali mungkin agak maklum namun frekwensinya sering terdengar.

Waktu yang seharusnya dipakai belajar malah dipakai kegiatan yang tidak produktif bahkan cenderung negatif.

Bisa jadi mereka pamit dari rumah untuk sekolah daring atau sekedar mengerjakan tugas dari sekolah. Prakteknya, fasilitas android dan paket datanya banyak digunakan yang lain yakni medsos, lihat video atau main game. Porsi buat tugas dan pelajaran sekolah sekedarnya saja.

Penampakan seperti ini mudah kita jumpai dibanyak tempat. Kita sendiri sepertinya sudah mulai familiar dengan pemandangan yang mirip-mirip begini. Biasa menyaksikan anak-anak kita, di rumah kita sejak pembelajaran online anak kita semakin akrab dengan telepon pintar ini. Tidak jarang ada yang rela beli baru daripada harus berbagi gantian dengan anaknya. Kebutuhan pulsa juga bertambah berlipat.

“Lha gimana, wong nyatanya pembelajaran daring butuh hape”

Kira-kira demikian alasan orang tua saat memberikan fasilitas android pada anak.

Alasan seperti di atas menjadi apologi atau pembenaran bagi orang tua yang sempat ragu karena menyadari ancaman efek negatif anak pegang hape.

Banyak respon setuju dari orang tua saat saya unggah story WA foto kerumunan anak di warung wifi itu, saya tulis caption pendek di bawahnya tentang keprihatinan kondisi tersebut.

Sikap sependapat dari banyak orang tua tersebut nampaknya ungkapan kegelisahan terhadap kondisi pendidikan anak-anak mereka.

Tidak ringan mendidik anak di rumah. Di sekolah anak diberikan asupan pelajaran yang sistematis dan komprehensif. Sumber daya pendidik yang kompeten. Sarana prasana pembelajaran yang lebih lengkap dan memadai.

Saya sendiri merasa agak kewalahan menghadapi anak di rumah yang sekolah daring. Padahal kami sudah berikhtiar membatasi main hape sekira dua jam per hari. Pada lain sisi kami nggak mentala sama anak disaat melihat anak sebayanya juga main hape yang sepertinya relatif bebas.

Tidak berlebihan jika ada yang berpendapat jika sistem pembelajaran daring berlangsung dalam waktu lama maka akan ada generasi yang hilang. Istilah yang digunakan terdengar ekstrim namun pendidikan adalah modal utama bagi peradaban sebuah bangsa.

Menarik ucapan seorang bupati di Jawa Tengah, mungkin untuk mengungkapkan kegundahannya beliau mengatakan
“Sing tak wedeni iki malah sekolah ora mlebu. Kowe lulus SD coronane 3 tahun, lha mak jegagik munggah terus tho? SMA lho iki mengko tapi pola pikire isih SD ” [Yang saya takutkan itu malah sekolah tidak masuk. Kamu lulus SD coronanya 3 tahun, lha tiba-tiba naik terus tho? SMA lho ini tapi nanti pola pikirnya masih SD]. Nanti muncul generasi blank. Ini yang ditakutkan,”

Masyarakat dan dunia pendidikan di Jawa Tengah menyambut gembira akan segera dimulainya Pembelajaran Tatap Muka(PTM). Harapan besar supaya masa uji coba berjalan lancar dan sukses agar PTM bisa segera diberlakukan secara menyeluruh.

Semoga pandemi segera berlalu.

Leave A Reply

Your email address will not be published.